Bangunan
ini berdiri di atas tanah seluas 2.400 meter persegi, oleh arsitek Drossares.
Istana Negara juga dikenal dengan nama Istana Gambir. Istana berdiri di atas
areal 15 heaktar. Dari depan, bangunan istana tampak putih kemilau. Enam pilar
doria besar dan tinggi menompang bagian depan istana yang Nampak megah dan
kokoh . halaman depan di hiasi bentangan rumput yang terawat baik dan mirip
sebuah permandani hijau. Di dalam tanam hijau ini terdapat kolam yang
berhiaskan barisan bunga teratai lambang kesucian yang terbuat dari batu semen
sebagai penghias. Sebuah tiang bendera menjulang tinggi dan di puncaknya selalu
berkibar sang bendera merah putih. Untuk menuju serambi depan, harus menapaki
16 anak tangga dari pualam. Di tengah tangga selebar 21 meter ini terhampar
permadani merah selebar 2 meter, dan di atas tergantung tiga lampu Kristal
berukuran besar. Di serambi dengan serta halaman depan istana ini pada setiap
tanggal 17 agustus, di lakukan upacara peringatan HUT kemerdekaan RI dan detik
– detik proklamasi berupa parade senja yang di meriahkan oleh pagelaran
drumband. Kedua bangunan itu berada di kawasan yang dimasa lalu bernama Weltervreden
(dalam bahasa Belanda berarti ”sangat memuaskan”)Weltervreden kala itu dikenal
sebagai kota yang tertata cantik dengan pohon-pohon yang dipangkas rapi seperti
di taman-taman Eropa.
Istana kepresidenan jakarta
merupakan salah satu bangunan yang terpengaruh gaya greko roman, Istilah
Greko-Roman lahir pertama kali atas kesepakatan kongres para arkeolog di Caen,
Perancis tahun 1825 dengan sebutan 'Grieken Romaneschestijl'. Pengaruh terakhir
dari Greko-Roman ini terhadap perkembangan gaya-gaya arsitektur terjadi pada
periode Gaya Postmodern dalam arsitektur, sehingga sering juga disebut sebagai
'Postmodern-Classicism Architecture'.
Beberapa
bangunan terkenal sepanjang masa yang banyak memakai orde-orde ini antara lain;
Colloseum dan Pantheon di Roma, Mesjid Sulaymanae di Istambul Turki, Le Lovre
di Paris. St, Peter's di Roma, Bahkan Gedung Putih di Washington dan tak
ketinggalan Istana Negara di Jakarta.
Greko-Roman
dengan tampilan orde-orde ini adalah ornamen arsitektur yang tidak mengenal
batas-batas kultural dan menembus zaman. Mulai dari bangunan Keagamaan, Istana
Pemerintahan, bahkan sampai kerumah-rumah penduduk di pelosok.Di
Indonesia, pengaruh Greko-Roman terjadi pada pertengahan Abad XVII dimana mulai
dibangunnya rumah-rumah mewah dan besar (Landhuizen) milik para pejabat tinggi
VOC. Arsitektur rumah-rumah tersebut berbentuk bangunan Indhies dengan
pemakaian kolom-kolom berorde pada fasade bangunan. Ada beberapa bangunan
peninggalan colonial ini yang masih terlihat sampai sekarang yang umumnya
memakai kolom-kolom berorde dorik antara lain; Istana Merdeka merupakan bekas
Istana Gubernur Jenderal di Riswijk, Gedung Juang 45, Istana Bogor, Klenteng
Sentiong, Gedung Pancasila, Museum Nasional (Museum Gajah), dan juga di
beberapa kota besar lainnya di Indonesia.
Pada tahun
1869 Istana Negara dan Istana Merdeka dibangun mengikuti konsep rumah panggung
untuk memperhitungkan kemungkinan banjir atau pasang surut air. Konsep rumah
panggung itu juga berfungsi sebagai sarana aliran udara (ventilasi) untuk
menyejukkan isi bangunan.Gaya arsitektur Pallado tampak jelas dari eksterior
kedua gedung ini yang menampilkan saka-saka bercorak Yunani. Ada enam saka
bundar laras Doria di bagian depan Istana Merdeka, sedangkan bagian depan
Istana Negara menonjolkan 14 saka dengan laras yang sama. Kesan arsitektur
Palladio juga terlihat pada bingkai-bingkai jendela dan pintu yang besar
disamping lengkung-lengkung gapura di kedua sisi Istana Merdeka. Beberapa arca
kuno juga menghiasi berbagai sudut pekarangan Istana Jakarta. Salah satu
diantaranya adalah arca Dhyani Boddhisattva, yang berasal dari Jawa Tengah pada
abad ke-9 merupakan arca langka yang sudah ada disana sejak masa
Hindia-Belanda.
Secara bertahap Istana Jakarta pun mengalami perubahan wajah. Kegemaran Ibu Negara Tien Soeharto terhadap ukir-ukiran kayu Jepara dengan segera mengubah penampilan Istana. Di luar bergaya Palladio, didalam bergaya Jepara.
Istana
Merdeka mulai dibangun pada tahun 1873 pada masa pemerintahan Gubernur Jendral
Louden dan selesai pada tahun 1879 pada masa pemerintahan Gubernur Jendral
Johan Willem van Landsbarge. Bangunan ini berdiri di atas tanah seluas 2.400
meter persegi, oleh arsitek Drossares. Istana Negara juga dikenal dengan nama
Istana Gambir. Pada masa awal pemerintahan Republik Indonesia, istana ini menjadi
saksi sejarah dilakukannya penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik
Indonesia Serikat oleh Pemerintah Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.
Republik Indonesia Serikat diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX,
sedangkan Kerajaan Belanda diwakili oleh A.H.J Lovink, Wakil Tinggi Mahkota di
Indonesia.
Setelah
penandatanganan naskah kedaulatan Republik Indonesia Serikat, bendera merah
putih dikibarkan menggantikan bendera Belanda, bersamaan dengan dinyanyikannya
lagu Indonesia Raya dan pekik merdeka oleh bangsa Indonesia. Sejak saat itu
nama Istana Gambir diganti menjadi Istana Merdeka.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar